Pemain Lebih Profesional, Ini Target Asisten Manajer PSS Sleman 2

Pemain Lebih Profesional, Ini Target Asisten Manajer PSS Sleman


BeritaBola.in, Yogyakarta- Legenda hidup PSS Sleman, Mochmamad Eksan, 44 tahun, mengungkapkan alasan perlunya para pemain sepak bola kini khususnya PSS untuk lebih menghargai profesinya.

Pencetak gol terbanyak ketika membawa PSS Sleman lolos ke Divisi Utama Liga Indonesia 2000 dengan 13 gol itu mengungkapkan pada  masanya, PSS bukanlah klub yang bergelimang harta.

Berbeda sekali dengan PSS Sleman saat ini yang sudah masuk kasta tertinggi di Liga 1 dan berhasil merangkul sejumlah sponsor besar untuk menghidupi klub dan mensejahterakan pemainnya.

“Saya dulu sebagai pemain lokal PSS dikira orang punya kontrak dan gaji besar, padahal sebenarnya tidak, kondisinya saat itu benar-benar prihatin,” ujar Eksan ditemui Senin 1 Juli 2019.

Pemain di sejumlah klub termasuk di kasta kedua pada masa lalu sering terdengar cerita belum menerima gaji karena seretnya pemasukan klub. Dengan sejumlah sponsor yang kini digandeng PSS Sleman, kasus telatnya gaji pemain kemungkinan besar tak akan terjadi.

Asisten Manajer PSS Sleman itu mengungkapkan situasi PSS di Liga 1 sekarang dengan kebutuhan dana lebih besar serta gaji pemain lebih tinggi telah bisa dipenuhi, sehingga tak bisa jadi alasan pemain untuk tak bersikap profesional.

“Kalau pemain itu profesional, dia akan mengutamakan pekerjaannya sebagai pemain, karena sekarang untuk masalah finansial akan mengikuti,” ujar pemain yang aktif membela PSS kurun waktu 1997-2005 dan 2009-2011 itu .  

Eksan mengingat bagaimana PSS Sleman masih tertatih-tatih sebagai klub Divisi 1 kurun waktu 1997-1999 dan hanya diperkuat pemain lokal. Tapi nyatanya karena semua kompak dan punya niat ada perubahan, akhirnya bisa lolos promosi ke Divisi Utama sebagai peringkat kedua musim kompetisi 2000.

Kepala Urusan Bagian Keuangan PDAM Sleman itu mengungkap secara manajerial klub PSS antara dulu dan sekarang mungkin tak akan jauh berbeda. Dalam pandangannya, posisi manajer menjadi jembatan komunikasi antara pemain, pelatih dan manajemen. Sehingga kunci utama tim menjaga kekompakan terjalin.

“Tugas saya sekarang bagaimana sebisa mungkin memiimalisir konflik yang bisa membuat tim tidak solid. Terlebih PSS di Liga 1 ini potensi konfliknya (di dalam) juga tinggi, karena kan banyak kebutuhan, tuntutan pemain, dan lainnya yang harus diselesaikan cepat,” ujarnya.

Eksan tak mau kondisi klub di masa lalu terulang di masa sekarang. Ia juga tak ingin dengan tugasnya yang menjadi tempat muara keluhan pemain menjadi ganjalan bagi PSS menorehkan prestasi di Liga 1. “Saya ingin klub terbuka, kompak, dan komunikasi manajemen-pemain jalan dengan baik,” ujarnya.

Eksan pun mengatakan masuknya dia ke jajaran manajemen PSS Sleman sudah dikomunikasikam dengan berbagai elemen, termasuk suporter PSS. Dukungan yang muncul pun menyemangati Eksan untuk menjalani pekerjaan baru sebagai asisten manajer Super Elang Jawa. “Target saya PSS bertahan di Liga 1,” ujarnya.

PRIBADI WICAKSONO



Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *