Community Shield, Pengantar Pep dan Klopp Menuju Rivalitas Panas 2

Community Shield, Pengantar Pep dan Klopp Menuju Rivalitas Panas


BeritaBola.in, Jakarta – Pertandingan final turnamen FA Community Shield di Stadion Wembley, London, Minggu 4 Agustus 2019, antara juara Liga Primer Inggris dan kampiun Piala Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) musim lalu, Liverpool versus Chelsea, adalah sebuah upacara.

Adapun upacara itu telah berlangsung dengan sukses. Manchester City menang melalui adu penalti 5-4 setelah seri 1-1 sampai pertandingan normal berakhir pada injury time menit 90+4. Pertandingannya disebut sejumlah media di Inggris sebagai partai menarik dan menghibur.

Tidak adanya babak perpanjangan waktu dan langsung dilanjutkan dengan adu penalti menegaskan sifat pertandingan seremonial ini.

“Sebuah pertandingan final yang menakjubkan dari kedua tim,” kata Manajer Manchester City, Pep Guardiola, di BT Sport.

“Tidak ada tim yang bisa mendominasi atas lainnya selama 90 menit. Pada 15 menit terakhir, pemain kami kelelahan dan mereka punya peluang memenangi pertandingan,” Guardiola melanjutkan.

Sedangkan Manajer Liverpool, Jurgen Klopp, bilang, “Kedua tim memiliki pramusim yang sama. Saya berbicara dengan Kevin de Bruyne (pemain Manchester City) setelah pertandingan. Kami berdua mengatakan bahwa kami belum tahu di mana kami berada.”  

Sebagai upacara untuk membuka musim baru kompetisi Liga Primer Inggris dan divisi-divisi di bawahnya, 2019-2020, yang akan mulai bergulir pada Sabtu dinihari mendatang, 10 Agustus, mungkin jangan terlalu serius menyikapi hasil akhir pertandingannya.

Pertandingan kemarin malam ini tak ubahnya sebuah partai persahabatan. Trofi FA Community Shield tetap penting, tapi bukan yang terpenting.

Meski Guardiola bilang keberatan dengan pernyataan Klopp bahwa Liverpool tak akan bisa seperti City yang mampu terus menggelontorkan uangnya setiap saat, tapi jangan diartikan itu adalah sebuah perang urat saraf bagi partai hidup-mati kemarin malam.  

Upacara ini hanya mewakili gambaran dari persaingan yang bakal lebih keras dari dua sosok pelatih yang diprediksi bakal mendominasi Liga Primer musim ini.

Pada era lalu di tengah nama-nama klub yang menjadi ikon dan magnet buat orang mencitai sepak bola, seperti Liverpool, Manchester United, AC Milan, Juventus, Barcelona, Real Madrid, kini Manchester City, dan lainnya, tokoh-tokoh dengan karakter kuat –baik pemain maupun pelatih- akan membuat tontonan sepak bola kian menggairahkan.

Kita kenal Alex Ferguson dengan rivalitasnya melawan Kenny Dalglish, Arsene Wenger, “Special One” Jose Mourinho, untuk menyebut beberapa contoh persaingan antartokoh yang legendaris.

Sekarang ada kemungkinan rivalitas yang klasik seperti itu hadir lagi. Ada Jurgen Kloop, pelatih asal Jerman yang menegaskan dominasi Inggris di Eropa dengan membawa Liverpool mencapai final Liga Champions dua musim beruntun dan memenanginya musim lalu.

Di sisi lain ada Pep Guardiola yang menjadi pelatih pertama di Liga Inggris yang meraih treble dalam satu musim kompetisi domestik, dengan memenangi Piala Liga Inggris, Piala FA, dan mempertahankan trofi Liga Primer Inggris.

Ikon sepak bola Barcelona dan Spanyol ini juga berpeluang membawa Manchester City mencetak hat-trick yang bersejarah di Liga Inggris dengan membawa City memenangi Liga Primer ketiga kalinya berturut-turut.

Sebenarnya masih ada sosok manajer Tottenham Hotpur, Mauricio Pochettino, lantas Unai Emery di Arsenal, dan sekarang ada Frank Lampard di Chelsea.

Tapi, meminjam sebutan dalam sebuah tulisan di ESPN, godfather Liga Primer Inggris 2019-2020 adalah dua tokoh itu, Pep Guardiola dan Jurgen Klopp, yang bersaing sengit pada perebutan gelar juara liga domestik musim lalu, yang ditutup dengan perolehan nilai 98 dan 97.   

Pep Guardiola dan Jurgen Klopp tak punya masalah di luar lapangan dalam soal kepribadian. Ini beda misalnya jika Pep berhadapan dengan Jose Mourinho atau Mou dengan Alex Ferguson dan Arsene Wenger.

Tapi, rivalitas yang semakin sengit antara Manchester City dan Liverpool di liga domestik maupun Eropa mungkin akan membuat Pep dan Klopp bisa terlibat perang kata-kata yang sepanas pertarungan mereka di lapangan.



Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top